“Lessons
for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno
PENTINGNYA PENDIDIKAN ISLAM (IMPORTANCE OF ISLAMIC EDUCATION)
Pentingnya
pendidikan Islam mungkin dapat dipahami secara baik jika
kita memperhatikan kembali wahyu pertama yang turun
kepada Nabi Muhammad SAW. Kata pertama dari wahyu itu adalah
Iqra yang berarti bacalah. Iqra adalah sebuah kata yang sangat
menyeluruh. Ayat ini telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW
dan pengikut beliau untuk membaca, menulis, memahami, berbagi
dan menyebarkan dengan segala kemampuan yang dimiliki.
Kata
Iqra diulang-ulang pada wahyu pertama ini untuk menekankan
bobot pentingnya. Adalah mengagumkan bahwa tujuan untuk
mengajar dan proses pelajaran diucapkan sebagai ‘qalam’ atau
pena. Sesungguhnya pena adalah suatu hadiah yang mulia
dari Allah SWT kepada umat manusia. Hanya manusia yang
mendapat
perlakuan khusus, kemampuan dan kehormatan untuk menulis
atau merekam pemikiran dan gagasan mereka. Dengan cara
ini umat manusia bisa mendapat manfaat dari pekerjaan orang-orang
yang sebelumnya atau mewariskan pekerjaan yang dicapai
oleh
mereka kepada generasi yang akan datang. Tentu saja rekaman
audio dan video adalah alternatif yang modern dari suatu
pena.
Bagaimana
dan sejak kapankah proses belajar mengajar dimulai? Perlu
diketahui bahwa perintah pertama kepada
Nabi Muhammad
SAW adalah memajukan pendidikan, seperti firman Allah
SWT dalam surat Ash Shuara 214
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang
terdekat,
Oleh karenanya, proses pendidikan harus dimulai dari
keluarga kita sendiri. Pada kenyataannya ini merupakan
cara yang
dilakukan oleh seluruh Nabi dan Rasul. Allah
SWT juga berfirman kepada orang beriman dalam Al Qur’an.
At Tahrim 6
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Para Sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “ Bagaimana
kita menyelamatkan keluarga kita dari api neraka?” Rasulullah
SAW berkata “Dengan
memberi mereka pendidikan Islam.”
Dengan
cara yang sama Allah SWT telah memerintahkan kita
dan keluarga kita untuk mendirikan Shalat dengan
sangat
teratur. Taha 132
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu
dalam mengerjakannya.
Karenanya
pendidikan dan aplikasinya harus dimulai dari keluarga-keluarga
kita sendiri. Pendidikan seperti in akan mempunyai akar yang kuat karena
anggota
keluarga lebih mengenali ketulusan kita dan usaha mulia lainnya. Orang
luar bisa mencap kita orang munafik atau gila.
Apakah
tujuan yang paling utama dari nenek moyang kita
di dalam hidup mereka?
Dalam rangka mencari suatu jawaban bagi pertanyaan ini, baiklah kita
perhatikan peristiwa yang bersejarah ketika Nabi
Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangun
rumah Allah SWT di Makkah. Setelah meyelesaikan tugas ini, mereka lebih
merendahkan dirinya lagi dengan memanjatkan permohonan
penting berikut ini, Al Baqarah
128
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada
Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh
kepada Engkau
dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji
kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima
taubat
lagi Maha Penyayang.
Karenanya tujuan nenek moyang kita adalah untuk memperoleh pendidikan
dan untuk mengajarkannya kepada anak-anak mereka sehingga mereka bisa
bersungguh-sungguh
bersikap tunduk kepada kehendak Allah SWT. Dalam rangka mencapai tujuan
ini, mereka memanjatkan doa yang historis ini, Al Baqarah 129
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan
mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka
Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan
mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Allah SWT mengabulkan doa nenek moyang kita ini, dan mengirim Nabi Muhammad
SAW untuk menyelesaikan tujuan pendidikan tersebut. Perhatikan bahwa
diantara semua karunia Allah SWT kepada umat manusia, kebaikan yang paling
utama adalah
memberi petunjuk kepada hambaNya. Allah SWT mengingatkan kita atas kebaikan
Nya di dalam surat Ali Imran 164
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman
ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan
mereka sendiri,
yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa)
mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan
sesungguhnya
sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan
yang nyata.
Mari
kita teliti bagaimana Nabi Muhammad SAW menyelesaikan
sasaran dan tujuan ini. Nabi Muhammad SAW segera
membangun Masjid Nabawi di Madinah
setelah
hijrahnya dari Makkah ke Madinah. Cukup lama masjid ini tidak beratap
karena ketiadaan
sumber daya keuangan. Para Sahabat Nabi Muhammad SAW shalat di
dalam masjid ini di bawah panas terik dalam jangka
waktu lama. Kita mencatat
bahwa pada
waktu itu suatu ruangan di Masjid itu telah dikhususkan untuk proses
belajar mengajar. Banyak dari para Sahabat yang biasa tinggal di
dalam ruangan ini
siang dan malam. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan belajar
mengajar saja tetapi juga makan dan tidur disana.
Dr. Hameedullah menyebutnya
sebagai suatu
universitas pesantren.
Mari
kita lihat bagaimana universitas ini beroperasi
pada waktu itu. Kita mencatat bahwa
sekali waktu Saad bin Ubada RA mengundang delapan
puluh siswa
dari universitas
ini untuk makan malam. Ini menunjukkan bahwa banyaknya jumlah
siswa adalah
sangat besar dan bahwa orang-orang kaya membantu institusi dalam
cara apapun yang mereka mampu. Kita juga mencatat
bahwa Muadh bin Jabal RA
memberikan
terlalu banyak derma sehingga terlibat hutang. Oleh karena itu
ia harus menjual rumahnya
untuk membayar hutangnya. Sehingga ia tidak mempunyai tempat
tinggal. Karena keadaan ini ia harus tinggal di
universitas ini. Tetapi
bagaimanapun, ia
tidak ingin menjadi beban yang tak perlu bagi universitas itu.
Kemudian ia ditugaskan
untuk menjaga buah kurma yang belum matang, sumbangan dari penduduk
bagi universitas. Karenanya, semua orang harus
membantu kegiatan institusi
dalam bentuk apapun
yang bisa dilakukan. Kita bisa tambahkan di sini bahwa ketika
Muadh bin Jabal dilantik menjadi gubernur Yaman,
ia diperintah
oleh Nabi SAW untuk
membangun
lembaga pendidikan di tiap kota dan memastikan bahwa lembaga-lembaga
ini berjalan dengan produktif.
Para
siswa tinggal di universitas hanya karena kecintaan
mereka untuk belajar. Sebagai contoh, Abdullah
bin Umar RA menganggap
waktu perjalanan
antara
Quba dan Madinah terbuang sia-sia, maka ia lebih menyukai
untuk meninggalkan rumah
dan orang tuanya dan tinggal di pesantren. Terakhir kita
mencatat bahwa ada seorang siswa dari universitas
ini yang meninggal.
Mereka menemukan
dua dinar
di dalam saku nya ketika pemakamannya sedang disiapkan. Nabi
SAW memperlihatkan suatu tanda kejengkelan dan berkata: “Seseorang
yang memiliki dua dinar tidak layak makan cuma-cuma di dalam
universitas ini.” Ini
memberi pengajaran kepada kita bahwa tak seorangpun diijinkan
untuk mengambil
keuntungan yang
tak pantas dari berbagai fasilitas institusi pendidikan.
Ini memberi kita beberapa masukan tentang cara berfungsinya
universitas
pesantren
pada masa
Nabi SAW.
Semua rincian ini didapat dari kuliah Dr. Hameedullah di
Universitas Bahawalpur.
Suatu
hari Nabi SAW keluar dari rumahnya menuju masjid
dan
menemukan dua kelompok sahabatnya di dalam masjid itu.
Satu kelompok sibuk
berdzikir kepada Allah
SWT, sedang kelompok yang lain sibuk dengan proses belajar
mengajar antara mereka. Kedua kelompok sungguh-sungguh
melakukan kegiatan
yang menguntungkan.
Tetapi bagaimanapun, Nabi Muhammad SAW lebih menyukai untuk
bergabung dengan
orang yang sedang dalam proses belajar mengajar. Hal ini
menunjukan kecintaan dan pentingnya pendidikan Islam di
dalam pikiran
beliau. Beliau biasa
bersabda : “Aku tidak ingin ada hari berlalu dimana
aku tidak mempelajari sesuatu hal yang baru.”
Para siswa di universitas pesantren Madinah ini disebut
As’Hab-us-Suffah.
Kita
lebih lanjut mencatat bahwa ketika perang Badar
beberapa tawanan perang tidak bisa
membayar tebusan. Kemudian Nabi
SAW meminta masing-masing
di antara
mereka untuk memberi pengajaran kepada sedikitnya sepuluh
Orang Islam sebagai tebusan mereka. Beliau tidak ragu-ragu
menggunakan
guru non Muslim
ketika
jumlah guru Islam tidak tersedia.
Pada
suatu ketika seorang anak laki-laki berusia 9 tahun
sedang menaiki punggung
Nabi SAW. Nabi SAW bersabda kepadanya: “Hai
anak muda, beri aku kesempatan memberimu beberapa kata-kata
bijak. Jika segala
sesuatu
dan semua orang berkumpul
bersama-sama untuk memberi manfaat bagimu, mereka tidak
akan bisa memberi manfaat bagi kamu kecuali apa
yang Allah SWT telah
tetapkan
untukmu.
Begitu pula jika
segala sesuatu dan semua orang berkumpul untuk merugikan
kamu, mereka tidak akan bisa merugikan kamu kecuali
apa yang Allah
SWT telah tuliskan
untukmu.”
Kita
heran mengapa Nabi Muhammad SAW memberi pengajaran
kata-kata bijak setinggi itu kepada
anak semuda dia.
Sesungguhnya, Nabi
Muhammad SAW
benar-benar memahami
potensi para pemuda. Nama anak muda ini adalah Abdullah
bin Abbas RA. Sebagai hasil ajaran ini, Abdullah
menjadi salah
satu anggota
dewan
penasehat bagi
Umar RA ketika Kekalifahan Islam telah menyebar luas
ke beberapa benua. Anak muda inilah yang menjalankan
urusan
harian dari
Kekalifahan Islam
yang sangat
besar ini. Anggota lain dari dewan penasehat ini
adalah para Sahabat Nabi Muhammad SAW yang jauh
lebih tua.
Mereka merasa
canggung dengan
adanya
anak muda ini
sebagai rekan mereka. Umar RA merasakan keberatan
ini. Kemudian ia bertanya kepada mereka “Apa
pendapat anda tentang situasi ketika Surat An Nasr
diturunkan?”
Mereka
menjawab bahwa itu menyangkut penaklukan Makkah
ketika sejumlah besar orang-orang
masuk agama Islam.
Umar RA menanyakan
pertanyaan
yang sama kepada
Abdullah bin Abbas RA. Abdullah berkata: “Aku
berpikir itu mengingatkan bahwa misi dari Nabi Muhammad
SAW telah hampir terpenuhi dan beliau akan meninggalkan
kita.” Umar RA menjawab: “Aku berpendapat
yang sama.” Kita
lebih lanjut mencatat bahwa ini adalah surat terakhir
yang diwahyukan kepada Nabi SAW secara lengkap dan
setelah turunnya
wahyu ini Nabi
SAW mengubah
dzikirnya dari:
menjadi:
Aisyah
bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau
merubah dzikirmu?” Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Aku telah diperintah
untuk melakukannya.” Dan
kemudian beliau mengulang surat An Nasr. Ini
dengan jelas menunjukkan bahwa potensi para
pemuda adalah luar biasa dan jika digunakan
dengan baik, hal
itu dapat menciptakan keajaiban.
Nabi
Muhammad SAW juga mengutamakan pendidikan Islam
bagi
para wanita. Kita mencatat suatu
pengamatan menarik di
sebuah buku
yang paling
tua dalam sejarah
yang disebut Al Maghazy dari Ibnu Ishaq.
Menurut buku ini yang baru saja diterbitkan di
Marocco,
Nabi
Muhammad
SAW
biasa mengajarkan
ayat-ayat yang turun kepada
suatu kelompok laki-laki segera setelah ia
menerimanya. Kemudian ia akan
mengajarkannya kepada suatu kelompok wanita
juga, menandakan pentingnya arti pendidikan
Islam
bagi para wanita. Ada beberapa perkataan
Muhammad SAW yang mengacu pada hal ini. Salah satu
dari
Hadits menyebutkan, “Siapapun yang
mempunyai tiga putri dan bersabar di dalam
membesarkan
mereka. Itu akan menjadi suatu perlindungan
untuk dia dari hukuman api neraka.” (Bukhari)
Hadits
kedua menyatakan, “Siapapun mempunyai
tiga putri yang diberinya tempat berteduh,
dukungan, dan mengasihi mereka, surga adalah
pahala yang dijanjikan
untuk nya.” (Bukhari)
Pendidikan
Islam selalu menjadi prioritas utama di dalam
pikiran pemuka-pemuka Islam,
bahkan
di dalam
keadaan
yang sangat buruk.
Imam Shafi’i menjadi
yatim piatu ketika ia masih kecil. Ibunya
meninggalkan dia dengan saudaranya karena
tidak sanggup membesarkannya dan ibunya
kembali kepada orang tuanya.
Imam
Shafi’i menghafalkan keseluruhan
Al Qur’an ketika ia baru
berusia tujuh tahun. Ia juga mendapat
pendidikan Islam lainnya. Ia pindah ke
Makkah dengan
pamannya dan mendapat pendidikan tambahan
Islam dari ulama terkemuka
waktu itu. Kemudian ia ingin menjadi
murid dari Imam Malik di Madinah. Ia
tidak punya
uang untuk biaya perjalanan dan kebutuhan
pribadi. Ia memperoleh suatu
surat rekomendasi dari guru nya di Makkah
untuk permohonan beasiswa. Imam Shafi’i
menyerahkan surat ini kepada Imam Malik
yang membacanya dan kemudian menjadi
marah, “Apakah
kamu berpikir pendidikan Islam hanya
mengandalkan surat rekomendasi saja.” Tetapi
bagaimanapun Imam Malik melihat bakat
dari anak muda
ini. Ia tidak saja hanya menerima sebagai
siswanya tetapi juga melengkapi
segala kebutuhan nya dari sakunya sendiri.
Imam Shafi’i
membuktikan dirinya berbeda di antara
para siswa Imam Malik lainnya.
Dengan
cara yang sama, kita temukan suatu
situasi yang menarik pada Imam As Sarakhsy
yang hidup di
abad kelima
setelah Hijrah.
Ia adalah seorang
tenaga ahli dalam masalah hukum Islam
dan sangat berani dan jujur. Para penguasa
pada
masanya memaksakan pajak yang tak adil
kepada rakyat. Sesungguhnya para penguasa
itu memboroskan
uang
dan ingin membebani
rakyat lebih banyak
lagi. Imam As
Sarakhsy mengajarkan rakyat untuk tidak
membayar pajak itu. Penguasa tidak
bisa membunuh dia,
tetapi mereka
memenjarakan Imam di dalam
suatu sumur mati.
Imam tinggal selama empat belas tahun
di
dalam sumur itu. Ia mendapat ijin dari
pengawalnya untuk
mnerima
kunjungan
para siswanya
untuk duduk
di tepi
sumur. Imam mendiktekan kepada para
siswanya penjelasan dari buku As Sayr Al Kabeer
yang ditulis oleh seorang
siswa Imam Abu
Hanifa. Penjelasan
ini
ditulis
dalam empat jilid. Dengan cara yang
sama,
Imam As Sarakhsy mendiktekan secara
lisan dan membukukan
Kitab Al Mabsoot
dalam tigapuluh
jilid. Lusinan buku
lain juga ditulis dari sumur mati ini
oleh Imam As
Sarakhsy.
Kita
mengetahui bahwa Nabi Yusuf biasa memberikan pendidikan
kepada
para narapidana
lainnya
ketika ia dipenjara.
Karenanya proses belajar mengajar
harus terus-menerus
dilakukan.
Seharusnya,
suatu pertanyaan timbul di benak kita: “Apa yang kita peroleh
dengan menuntut dan menyampaikan
pendidikan Islam?” Allah SWT berfirman
di dalam Al Qur’an Ath Thur
21
Dan orang-orang yang beriman, dan
yang anak cucu mereka mengikuti
mereka dalam
keimanan,
Kami hubungkan
anak
cucu mereka dengan
mereka, dan Kami
tiada mengurangi
sedikitpun dari pahala amal mereka.
Tiap-tiap manusia terikat dengan
apa yang dikerjakannya.
Dengan
kata lain, jika anak-anak ternyata masuk ke surga
dengan
tingkat yang
lebih rendah dibanding
orang tua
mereka, kemudian
orang tua berharap
bahwa
keseluruhan keluarga dipersatukan
didalam surga. Allah SWT berjanji
disini untuk
mempersatukan mereka,
dengan
syarat bahwa anak-anak
mempunyai iman
sebaik orang tua mereka dan bahwa
mereka mengikuti jejak orang
tua mereka dalam
kehidupan sehari-hari.
Abu
Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, “Sebagian
orang akan mendapatkan diri mereka
di dalam tingkatan surga yang sangat tinggi. Mereka
ingin tahu bagaimana mereka bisa mencapai tingkatan
sangat tinggi ini,
karena amal perbuatan mereka
bukanlah yang sangat tertinggi.
Allah
SWT akan berkata kepada mereka, ‘Kamu meninggalkan
anak-anak yang selalu berdoa untukmu, dengan setiap
doa yang mereka panjatkan, tingkatanmu di surga
naik
lebih tinggi dan semakin tinggi.’” (Musnad
Ahmad)
|